Breaking News
Loading...
Rabu, 27 April 2016

Jamu Budaya Warisan Karya Bangsa Indonesia

03.14
Jamu Budaya Warisan Karya Bangsa Indonesia - JAMU sebagai Warisan Kebudayaan Dunia Karsa dan Karya Bangsa Indonesia kepada UNESCO. Namun, saya juga setuju dengan pendapat Bapak Jaya Suprana bahwa perjuangan tersebut akan muspra begitu saja ketika rencana ini tidak mendapat respon yang baik dari berbagai kalangan khususnya mereka yang bergelut di dunia perjamuan seperti pemerhati jamu, penjual jamu, petani jamu bahkan pelaku industri jamu. Untuk itu saya membuat tulisan ini sebagai bentuk dukungan kepada rencana tersebut.


Jamu Budaya Warisan Karya Bangsa Indonesia



Jamu yang memang  telah menjadi tradisi pengobatan sejak jaman nenek moyang dimana saat itu memang belum terdapat dunia farmasi seperti saat ini. Namun pamor jamu ternyata tak lekang oleh waktu dan tak pernah ketinggalan jaman. Meski obat-obatan kimia kian menjamur dimana-mana toh tak akan menyamai khasiat dan alamiah dari jamu. Ketika segelas jamu dapat menggantikan fungsi obat akan tetapi sebutir obat belum tentu dapat menyamai khasiat jamu.

Para ratu pada jaman kerajaan bahkan menggunakan jamu untuk kecantikan ragawi mereka. Nyatanya kebiasaan itupun menular pada perempuan modern generasi millennium yang membedakannya hanya peralatan pembuatan jamu saja dimana dulu bahan-bahan tersebut dihaluskan dengan alu dan lumpang, saat ini jamu banyak yang diproses secara pabrikan tanpa mengubah khasiatnya. Sebut saja Temulawak yang terdapat dalam lulur atau daun Kemuning yang digunakan untuk bedak dan masih banyak lagi lainnya. Banyak sekali yang dapat dijadikan bukti bahwa jamu dan masyarakat pribumi tak pernah terpisahkan sejak dulu maupun kini dan nanti.

Saya adalah salah satu orang yang sangat berbangga ketika jamu dinobatkan sebagai Intangible Cultural Heritage oleh UNESCO nantinya, semoga harapan ini segera terwujud. Bukan tanpa alasan saya menyatakan diri demikian karena sejak kecil saya memang sudah dikenalkan dengan jamu oleh orang tua saya. Bahkan orang tua saya juga mengais rejeki dari jamu hingga saya dan adik-adik saya dapat memperoleh kehidupan dan pendidikan yang layak. Bagi saya dan keluarga jamu bukan sekedar tradisi atau budaya tetapi JAMU ADALAH PAHLAWAN. Entahlah harus dengan ekspresi bagaimana lagi saya menunjukkan kebanggan saya terhadap jamu yang jelas saya sangat sepakat bahwa jamu adalah budaya bangsa yang harus dilestarikan!!!

MENJAMURNYA PENGOBATAN ALTERNATIF

Salah satu bukti eksisnya jamu sepanjang jaman selain jamu gendong adalah praktek pengobatan alternatif/herbal. Bukan pengobatan herbal dari negeri tetngga yang saya maksudkan disini tetapi benar-benar pengobatan alternatif yang digeluti oleh orang Indonesia asli yang memiliki pengetahuan lebih tentang pengobatan tradisional. Meski tempat-tempat medis seperti rumah sakit dan sejenisnya selalu penuh dengan pasien disisi lain praktek pengobatan tradisional juga tak pernah sepi peminat. Terapi yang mereka berikan dapat berupa pijatan atau yang lainnya namun pada sesi akhir pengobatan biasanya mereka tak lupa memberikan jamu sebagai penunjang terapi sebelumnya. Jamu yang mereka gunakan bahannya juga bukan yang harus didatangkan dari luar negeri yang harganya selangit namun berbagai jenis empon-empon yang tumbuh di bumi Nusantara.

Tidak semua terapis tersebut menjual jamunya dalam bentuk siap saji namun ada beberapa dari mereka yang hanya menyodorkan resep kepada pasien. Saya mengetahui hal ini dari orang tua di Madiun dan teman kerja saya di Situbondo yang pernah mencoba jasa pengobatan alternatif (bukan dukun). Saya pernah membaca rangkaian resep yang diberikan oleh sang terapis dimana dalam catatan tersebut ternyata berisi bahan-bahan jamu yang ada disekitar kita seperti kunyit, temulawak, butrowali, daun jati belanda dan lain sebagainya. Bagi terapis yang tidak sekaligus menjual jamu biasanya memang menyuruh si pasien untuk mencari bahan-bahan tersebut sendiri.

Bagiamanapun juga kehadiran praktek pengobatan tradisional tidak bisa dipandang sebelah mata. Justru keberedaan mereka menjadi salah satu bukti eksistensi jamu di era farmasi.

MEMBUDAYAKAN APOTEK HIDUP

Menurut saya jamu itu selalu lebih baik dari pada obat konvensional. Selain alami, menyegarkan, murah meriah juga minim residu berbeda ketika kita mengkonsumsi obat kimia dalam jangka tertentu. Apalagi di jaman yang serba mahal ini, terkadang rupiah yang tersedia di dompet tak mampu menebus obat dari apotek terutama bagi kaum ekonomi lemah. Disaat obat tak dapat dijangkau atau kehadirannya malah dapat memicu hal-hal yang yang tidak diinginkan maka harapan terbaik dapat beralih pada jamu. Untuk memperoleh bahan-bahan jamu juga tidak selalu merepotkan apalagi jika kita memiliki “apotek hidup”di rumah.

Memiliki hunian yang asri dengan berbagai jenis tanaman hias pasti sangat menentramkan. Nah, bagaimana jika tanaman-tanaman hias anda diganti atau disandingkan dengan tanaman jamu. Selain tetap memperoleh kesan asri juga dapat memberikan manfaat apabila kita butuhkan sewaktu-waktu. Di sekitaran rumah saya dan saudara-saudara banyak dikelilingi tanaman jamu loh. Jika kita mau menata tanaman jamu dengan baik, indahnya tidak kalah dengan tanaman bunga. Tanaman jamu juga tidak selalu memakan lahan yang banyak karena bisa juga ditanam dalam pot seperti halnya bunga hias.

Tanaman jamu seperti kunyit, kunci, jahe, kencur, laos dll dapat menjadi bumbu sehat di dapur anda. Sedangkan tanaman seperti beluntas, pepaya dan mengkudu selain berguna untuk jamu juga dapat  dimanfaatkan daunnya sebagai sayuran sehat. Wow, ternyata tanaman jamu selain sedap di mata juga sedap di lidah dan badan ya J. Yuk, mari bergaya hidup sehat dengan membudayakan apotek hidup!!! 

Daun sirihnya itu ada di rumah sepupu yang kebetulan rumahnya berada di belakang rumah saya. Daun sirihnya itu merambat di dinding loh dan bentuknya melebar, jadinya semacam graffiti hidup yang terlihat indah. Sedangkan daun beluntasnya ada dibelakang rumah tante yang rumahnya bersebelahan dengan saya. Kebetulan kami memang tinggal di kampung sehingga rumah antar saudara banyak yang berdekatan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer